Pengaruh Hukum FPI: Janganlah Bodohi Anak buah dengan Drama Komedi yang Tidak Lucu

0
217

Suara. com – Ketua kuasa hukum enam laskar FPI dengan tewas ditembak polisi Munarman menumpukan penanganan perkara dan rekonstruksi dengan dilakukan oleh pihak kepolisian.

Mereka menolak pasal-pasal dengan disangkakan kepada enam laskar pokok mereka dianggap telah menjadi target.

Munarman memperhatikan perkembangan penanganan kasus tewasnya enam laskar FPI beberapa waktu berarakan. Ia menyebut penanganan kasus yang dilakukan oleh pihak kepolisian hanya sebuah drama komedi yang tidak lucu.

“Makin menunjukkan rangkaian drama komedi yang enak, ” kata Munarman dalam informasi tertulisnya, Selasa (15/12/2020).

Baca Juga: Diperiksa soal Kasus Acara Habib Rizieq, Bupati Bogor Dicecar 50 Pertanyaan

Menganggap sebuah drama komedi yang tidak mengundang gelak tawa, Munarman dengan kuasa hukum lainnya lantang menolak penangangan perkara dan rekontruksi atau mencita-citakan ulang atas tragedi pembunuhan terhadap enam anggota laskar FPI sebab kepolisian.

Karena itu pula, pihak kuasa hukum meminta Komnas HAM guna menjadi kepala untuk mengungkap tragedi tewasnya enam laskar FPI. Permintaan itu dilakukannya lantaran mereka menganggap peristiwa itu masuk ke dalam pelanggaran PEDOMAN berat.

Mereka selalu tidak menerima atas penggunaan perkara yang dikenakan untuk enam barisan FPI.

Di dalam kasus ini pihak kepolisian menggunakan ketentuan Pasal 170 KUHP Jo. Pasal 1 (1) dan (2) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tarikh 1951 dan atau Pasal 214 KUHP dan atau Pasal 216 KUHP untuk menjalankan penanganan pasal.

“Karena justru mendaulat enam syuhada anggota laskar FPI tersebut adalah sebagai pelaku, yang sejatinya mereka adalah sebagai korban, ” tuturnya.

Baca Juga: Simpatisan Habib Rizieq Membuat Aksi Moral, Begini Tanggapan Polisi

Munarman juga memandang penanganan perkara tidak bisa dijalankan karena tersangkanya pun sudah wafat.

“Janganlah kita bodohi rakyat Indonesia dengan drama komedi yang tidak lucu lagi, ” ungkapnya.