Konvensi Rizieq, Ahli: Orang Tabrak Kerumunan Tak Boleh Tepat Sanksi Double

0
71

Suara. com semrawut Ahli Hukum Kesehatan dari Universitas Gajah Mada (UGM), M Luthfi Hakim, menilai bahwa seseorang tidak bisa dipidana sedang atau dikenai sanksi double bila dalam kasus gerombolan atau pelanggaran protokol kesehatan tubuh sudah dikenai saksi denda.

Hal tersebut disampaikan Luthfi ketika dihadirkan sebagai saksi ahli di sidang lanjutan Habib Rizieq Shihab kasus kerumunan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (17/5/2021).

Awalnya satu diantara kuasa hukum Rizieq pada persidangan bertanya kepada Luthfi sebagai saksi ahli terpaut dengan adanya seseorang yang menggelar acara halal bi halal namun justru menerbitkan kerumunan.

Lalu orang yang ciptakan kerumunan itu didatangi otoritas pemerintah setempat untuk memberikan balasan sanksi denda.

Baca Juga: Ahok Pernah Covid, Refly Harun Bandingkan Kekasih Rizieq dan Anies Baswedan

“Apakah patuh ahli penyelesaian pembayaran sanksi administrasi itu masih mampu kena pidana lagi?, ” tanya kuasa hukum Rizieq.

Luthfi lalu memberikan respons. Ia menilai seseorang yang sudah dikenakan sanksi denda administrasi tak bisa dikenakan lagi sanksi pidana. Menurutnya, sanksi kompensasi sudah lebih dari lulus.

“Tidak mampu, karena apa? Karena sanksi (administrasi) itu merupakan telah hukuman yang sudah membersihkan jadi sudah memulihkan suatu situasi masyarakat pada perihal semula, ” jawab Luthfi.

Luthfi lantas menyebut jika seseorang sudah dikenakan sanksi denda kemudian diganjar sanksi pidana maka hal itu tidak dibenarkan.

“Jadi kalau dikenakan hukuman lagi maka dia mencapai double sanksi dan tersebut tidak dibenarkan dalam pemidanaan, ” tuturnya.

Mengaji Juga: Idul Fitri di Tahanan, Rizieq Shihab Belum Dijenguk Suku

Untuk diketahui, dalam kasus kerumunan Petamburan, Rizieq didakwa telah melakukan penghasutan hingga ciptakan kerumunan dalam acara pernikahan putrinya dan maulid nabi Muhammad SAW.

Sebelumnya dirinya juga sudah dipakai sanksi denda administrasi sebab Pemprov DKI sebesar Rp50 juta.

Tatkala dalam kasus kerumunan Megamendung, Rizieq didakwa telah menentang aturan kekarantinaan kesehatan secara menghadiri acara di Pondok Pesantren Agrokultural Markaz Syariah, Megamendung, Puncak, Kabupaten Bogor 13 November 2020 berantakan.