Pengusaha Kecil Desak BPOM Laporkan Penyebar Hoaks Galon Bertugas Ulang ke Aparat

0
192

Suara. com – Koalisi di Bidang Pengawasan serta Perlindungan terhadap Para Pengusaha Depot Air Minum (Asdamindo) – yang menaungi beribu-ribu pengusaha air minum muatan ulang – meminta Awak Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk bersikap jelas terhadap orang-orang yang telah menyebarkan isu yang tak benar terkait galon guna ulang.

BPOM harus berani melaporkan itu ke aparat berwajib karena sudah membuat resah asosiasi dan pengusaha kecil tirta minum isi ulang yang bertahun tahun menggunakan galon berbahan polikarbonat (PC).

Hal itu disampaikan Ketua Asdamindo, Erik Garnadi, menyikapi jumpa pers yang dilakukan Lembaga Swadaya Asosiasi Komnas Perlindungan Anak serta pihak yang menyebutkan dirinya Perhimpunan Jurnalis Kesehatan serta Linggungan (JPKL) baru-baru tersebut, yang menyerukan penolakan penerapan galon ulang berbahan polikarbona karena mengandung Bisphenol A (BPA) karena dianggap kritis bagi kesehatan bayi, balita, dan janin pada ibu hamil.

“Jangan sampai masyarakat yang oleh sebab itu korban karena isu hoaks semacam itu. Jadi, BPOM kudu melaporkannya kepada pihak berwajib. Karena ada kewenangan dengan khusus dari BPOM buat melaporkan mereka, ” ujar Erik. Pengusaha air menelan isi ulang selama itu selalu menggunakan galon jawab ulang berbahan polikarbonat serta tidak pernah ada urusan, tambah Erik.

Menurut Erik, jika tersebut tidak dilaporkan, masyarakat bisa menyalahkan BPOM yang dianggap tidak tegas dalam meninjau keamanan pangan.

“Masyarakat mampu menganggap isu hoaks tersebut benar dan bahwa bakal BPA dalam galon berperan ulang itu memang sungguh-sungguh bermasalah. Dalam hal ini yang disalahkan kan BPOM-nya. Jadi mereka harus mengklarifikasi permasalahan ini dengan cepat. Bila perlu dilaporkan, ” ucapnya.

“Jangan sampai kita juga ikut dirugikan. Masyarakat kita yang mengkonsumsi air minum muatan ulang jadi dirugikan sebab pemberitan-pemberitaan hoaks seperti tersebut, ” tambahnya.

Dia mengatakan galon jawab ulang berbahan polikarbonag tersebut sudah digunakan sejak puluhan tahun lalu dan belum ada laporan tentang bahayanya. BPOM juga sudah melangsungkan uji klinis terhadap galon itu dan dinyatakan lolos uji.

“Tapi kenapa sekarang ini tiba-tiba galon berbahan BPA tersebut dipermasalahkan. Ini seperti tersedia persaingan bisnis di dalamnya. Kalau dilihat dari kacamata saya, ” tukasnya.

Dia menandaskan seharusnya yang lebih disoroti para penyebar hoaks guna ulang itu adalah soal status air minum isi kembali yang ada di depot-depot yang tidak memiliki legalitas atau layak air minum. Karena menurutnya, data lantaran Kemenkes menunjukkan baru 10% saja dari depot-depot air minum isi ulang yang ada di Indonesia itu yang memilik legalitas. “Ini jauh lebih penting isunya ketimbang galon guna kembali yang sudah benar-benar tersedia uji klinisnya dari BPOM, ” tandasnya.

Apalagi, kata Erik, pemberi tahu isu hoaks galon jawab ulang itu sama sekadar tidak mempunyai ilmu menerjang uji klinis makanan. “Kenapa orang yang tidak memiliki ilmu memberikan pernyatan (benda) ini berbahaya (benda) tersebut berbahaya. Ini kan harus melalui uji klinis, ” katanya.

Sebelumnya, dalam rilis bersamanya, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) dan Asosiasi Kongsi Air Minum dalam Kemasan Indonesia (ASPADIN), juga mendukung adanya tindakan tegas daripada pemerintah untuk melindungi pabrik makanan dan minuman daripada serangan informasi menyesatkan tehadap galon guna ulang.

Baca Pula: Viral Ivermectin Jadi Obat Covid-19, BPOM Ingatkan Bahaya Efek Tepi Obat Membengkil

Menurut mereka, sumber berita atau informasi ini bersumber dari pihak yang belum diketahui rekam jejak dan kompetensinya untuk berbicara mengenai aspek keamanan pangan saduran di Indonesia.

“Kami mendukung tindakan jelas dari pemerintah ini supaya berita hoaks ini tak menimbulkan keresahan masyarakat dan merusak iklim usaha yang sehat. Dengan demikian pabrik makanan dan minuman pada umumnya dan industri AMDK pada khususnya dapat berdiri dari krisis akibat pandemi Covid 19 saat tersebut, tumbuh dengan sehat, serta tetap berkontribusi dalam pembangunan ekonomi Indonesia yang kita cintai bersama, ” perkataan pimpinan Gapmmi dan Aspadin dalam rilis bersamanya tersebut.

Sebelumnya diberitakan, JPKL dan Komnas Perlindungan Anak mengadakan jumpa pers baru-baru ini untuk menodong agar masyarakat menolak keberadaan galon guna ulang berbahan BPA. Dalam jumpa pers itu juga disampaikan kalau galon ini bisa membahayakan kesehatan bayi, balita & janin pada ibu berisi.

Seperti diketahui, JPKL sudah sering memakai pernyataan pihak-pihak tertentu, baik dari anggota DPR, dokter-dokter, lembaga laboratorium independen, KPAI, bahkan perhimpunan dokter NU, dan saat ini Komnas Perlindungan Anak untuk mempengaruhi masyarakat agar tidak lagi menggunakan galon guna ulang ini. Namun, semua perwira sumber itu merasa kalau penyataan mereka telag dipelintir dan tidak sesuai dengan apa yang mereka sampaikan.

Merasa was-was dengan sepak terjang mereka, BPOM sudah mengklarifikasi menggunakan rilisnya yang dimuat di laman resmi nya. BPOM menjelaskan bahwa berdasarkan buatan pengawasan BPOM terhadap kemasan galon AMDK yang dibuat dari Polikarbonat (PC) selama lima tahun terakhir, menunjukkan kalau migrasi BPA yang ada dalam galon guna kembali itu di bawah 0. 01 bpj (10 mikrogram/kg) atau masih dalam pemisah aman.