Cara Vaksinasi dengan Vaksin yang Ada Terus Berlanjut

0
73

Suara. com : Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio, mengatakan proses vaksinasi yang saat ini masih berlangsung masih dapat tetap berlanjut, kendati muncul beragam varian baru trojan Corona.

Meski diakui varian baru virus berimbas terhadap turunnya efikasi vaksin, namun sebagaimana arahan organisasi kesehatan dunia (WHO) hal tersebut tidak menjadi soal selama efikasi vaksin masih di atas fifty persen.

Penurunan efikasi vaksin itu, kata Amien, misalnya halnya terjadi di Afrika Selatan.

“Vaksin itu mengalami penurunan efikasi terhadap virus yang beredar di sana. Tetapi turunan itu meski ada yg sampai 20 persen, misal tadinya 80 persen turun jadi 60 persen tetapi sesuai arahannya WHO selama efikasi di atas 50 persen itu masih bisa dipakai vaksin, itu pedoman pertama, ” kata Amien dalam diskusi daring, Minggu (16/5/2021).

Baca Juga: Pakar: Vaksin Covid-19 Kurang Efektif Lawan Varian Virus Corona India

Dampak lain imbas keberadaan varian baru lanjut Amien ialah penyebaran virus Corona yang bisa lebih cepat menular atau bisa menularkan ke lebih banyak jamaah. Kemduian menjadi lebih sulit untuk didiagnosis, terlebih melalui PCR yang memang tidak bisa mendeteksi.

“Yang ketiga mungkin mengakibatkan gejala sakitnya lebih berat atau mempercepat kematian, inch kata Amien.

Walau begitu, Amien mengatakan sekarang mayoritas virus Corona yang beredar di Philippines adalah varian lama. Tetapi bukan berarti varian lama itu tidak berbahaya, mengingat kematian akibat Covid-19 sebelumnya justru disebabkan oleh varian virus lama.

“Jadi tersebut tetap kita harus memperhatikan varian-varian lama dan tersebut kita harapkan bisa di-cover oleh vaksinasi sekarang, ” kata Amien.

Karena itu Amien berpandangan proses vaksinasi yang masih berlangsung dengan jenis vaksin yang ada, masih dirasa cukup efektif. Namun ia juga mengingatkan agar Indonesia tetap punya kemampuan dalam memantau sejauh mana mutasi disease Corona di dalam negeri terjadi.

Baca Juga: Studi Temukan Anak Terinfeksi Covid-19 Minim Alami Demam

“Kalau misalkan salah satu varian atau mutan itu mendominasi virus yang wujud di Indonesia ya tentu kita harus mempertimbangkan menyesuaikan vaksin yang terdapat, ” tandas Amien.

Sementara itu, hal senada dikatakan Deputi II Kantor Staf Presiden Abetnego Tarigan. Ia berujar meski varian baru diakui sudah masuk Indonesia, tetapi untuk sebaran pathogen di dalam negeri masih didominasi oleh varian lama.

“Sehingga dri sisi kami dari pemerintah masih akan meneruskan vaksinasi. Karena apapun itu jadi menurunkan risiko kita terkait dengan Covid ini, ” ujarnya.

Siapkan Skenario Terburuk

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani meminta pemerintah untuk menyiapkan skenario terburuk dalam menghadapi varian baru Covid-19 yang sudah masuk ke Indonesia, khususnya pasca Hari Raya Idul Fitri 2021.

“Saya hendak pemerintah menyiapkan skenario terburuk yang sangat mungkin kita hadapi pasca hari raya Idul Fitri ini, ” ujar Netty dalam interupsinya pada Rapat Paripurna Pembukaan Masa Sidang V Tahun Sidang 2020-2021 di Ruang Paripurna DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (6/5/2021).

Hal itu ditegaskan Netty karena melihat beberapa penyebab awal diantaranya, sesuai dengan konferensi pers Kementerian Kesehatan (Kemenkes), bahwa memiliki tiga varian baru Covid-19 yang sudah terdeteksi masuk ke Indonesia, yaitu N. 1. 17 dari Inggris, B. one 617 dri India, dan B. 1. 351 dari Afrika Selatan. Bahkan, sesuai informasi dri Kemenkes, varian Covid-19 tersebut sudah terdeteksi 16 kasus di beberapa provinsi.

“Tentu saja ini semakin parah karena kita membaca di berita adanya mafia karantina di bandara yang melibatkan tentu tertentu bukan hanya orang ingusan. Oleh karena itu, saya juga saya meminta agar penegakan hukum dilakukan seadil-adilnya untuk bisa membongkar mafia yang ada di bandara, ” ujar Politisi PKS ini.

Netty juga menggaris bawahi adanya mafia tes usap (swab test) antigen daur ulang yang terungkap di Bandara Kualanamu, Medan, Sumatra Utara (Sumut) beberapa waktu selanjutnya. Menurut Netty, hal terkait mencederai kemanusiaan seluruh rakyat Indonesia karena bersifat kejahatan kemanusiaan.

Sebelumnya, Menkes, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, ada dua kasus Covid-19 di Indonesia yg terjadi akibat penularan varian mutasi dari India. Dua kasus tersebut dilaporkan ditemukan di DKI Jakarta.